Agama kitalah yang menentukan keselamatan hidup kita sekarang dan masa mendatang. Karena itu, kita harus memeriksa (dan memeriksa kembali) benar-sesatnya agama kita.

Islam & Kristen: Manakah yang lebih sempurna sebagai agama?

11 Agustus 2010 130 komentar

Seorang Kristen mengatakan kepadaku bahwa bila dibandingkan dengan Islam, maka Kristen itu jauh lebih sempurna sebagai agama. Alasannya, katanya, orang Islam selalu membutuhkan penafsiran kontekstual (filsafat mawas) untuk memahami isi Alquran. Sedangkan orang Kristen, katanya, tidak banyak membutuhkan filsafat mawas untuk memahami isi Alkitab. Katanya pula, ajaran Kasih dalam Kristen itu mutlak, tidak membutuhkan penafsiran kontekstual. (Lihat postingan “Senjata Makan Tuan” beserta komentar-komentarnya yang relevan.)

Benarkah kata-katanya itu? Berikut ini tanggapanku kepada dia.

Baca selanjutnya…

Benarkah memenggal orang kafir berarti mengikuti perilaku Nabi Muhammad?

4 Agustus 2010 29 komentar

Seorang pembenci Nabi Muhammad menyindir, “Kenapa kamu gak mengikuti nabi kamu? Penggal kafir, garong dan rampok kafir, … dst?” Jawabanku: Benarkah “penggal kafir, garong dan rampog kafir … dst” itu berarti mengikuti perilaku Nabi? Aku meragukannya berdasarkan pertimbangan seorang idola di bawah ini:

Kisah seorang idola yang mengejar seorang perempuan Suatu hari, si Fulan melihat idolanya mengejar seorang perempuan. Tiba-tiba seorang perempuan lainnya melintas di depannya. Lalu ia pun mengejar si perempuan. Melihat itu, seorang pengamat merasa geram. "Mengejar perempuan? Menjijikkan!" Lantas sang pengamat menemui si Fulan dan bertanya: “Mengapa kau mengejar perempuan itu? Apa kau tidak tahu bahwa perilaku seperti itu menjijikkan?” Si Fulan: “Itu tidak menjijikkan. Saya mengejar perempuan itu k … Read More

via Pikiran Polos

Kategori:Uncategorized

Cara Efektif Untuk Memurtadkan Ustadz dan Kader PKS

3 Agustus 2010 39 komentar

Sebagaimana kebanyakan ustadz, ulama, dan kaum santri yang mendalami ilmu agama islam, aku sekarang bersandar pada kaidah-kaidah dari ilmu ushul fiqih dalam memahami Al-Qur’an dan Al-Hadits, terutama terhadap dalil-dalil yang kelihatannya bertentangan. Kaidah-kaidah tersebut dirumuskan oleh para pakar ilmu ushul fiqih berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Kalau Anda hendak memurtadkan diriku dan mereka, maka cara yang paling efektif adalah memeriksa baik-buruknya atau benar-salahnya kaidah-kaidah tersebut. Salah satu diantaranya, dalam bahasa Indonesia, lihat “Fiqh Prioritas“. Kitab ini karya Syeikh Qardhawi, seorang tokoh ulama terkemuka Ikhwanul Muslimin, yang di Indonesia berpengaruh besar terhadap PKS (Partai Keadilan Sejahtera). Kalau Anda berhasil menunjukkan sesatnya kaidah-kaidah tersebut, maka aku takkan heran bila akan ada banyak tokoh ulama, ustadz, kader, dan kaum santri simpatisan PKS yang murtad keluar dari Islam.

Murtad karena “kembali ke Al-Qur’an dan Al-Hadits”?

2 Agustus 2010 61 komentar

Terhadap artikel “Alasan Murtad Yang Masuk Akal“, muncul berbagai tanggapan yang menarik. Satu diantaranya, mengenai kurang islaminya orang-orang muslim pada umumnya, aku bahas di sini.

Pak Shodiq yang baik, pernahkah terlintas di pikiran Anda sumber “ketidakislamian” muslim lain adalah mereka melakukan 100% yang diperintahkan Alquran [atau “kembali ke Al-Qur’an dan Al-Hadits”]?

Baca selanjutnya…

Murtad karena diselamatkan Yesus dari badai ganas?

2 Agustus 2010 48 komentar

Nama saya Uthman dan istri saya bernama Modina. Kami berdua tinggal di India Utara di dekat perbatasan dengan Bangladesh. Dahulu kami berdua adalah orang-orang Muslim. Saya bekerja sebagai nelayan. Untuk tambahan, saya dan istri saya mengelola sebidang tanah dan mendapatkan penghasilan dari sana. Suatu hari saya berlayar di laut untuk menangkap ikan bersama dengan enam belas teman saya sesama nelayan, ketika tiba-tiba badai yang sangat berbahaya menyerang. Kami berada sangat jauh dari pantai yang aman. Ketakutan oleh badai itu, semua berteriak meminta pertolongan kepada Tuhan dan dewa mereka, karena bukan hanya orang-orang Muslim, tetapi juga ada orang-orang Hindu di sana. Pada saat itu saya ingat sebuah kisah dari kitab Injil yang diceritakan oleh Ibu Anwara kepada saya—tentang bagaimana Kristus pernah menenangkan badai di laut. Saya mendorong teman-teman saya untuk meminta pertolongan kepada Kristus. Karena itu kami semua berdoa kepada Kristus, dan badai itu berhenti, laut menjadi tenang. Saya kembali ke rumah dan menceritakan kepada Ibu Anwara pengalaman yang sangat luar biasa itu. Saya mengatakan kepadanya bagaimana Kristus sungguh-sungguh secara langsung menyelamatkan saya dari air yang dalam. Saya mengakui dosa-dosa saya kepada Tuhan dan pergi ke gereja, dimana saya menerima baptisan, setelah saya memberikan kesaksian akan iman saya kepada Yesus. Ketika istri saya, yang sudah secara rahasia mengikut Kristus selama beberapa waktu, melihat iman yang demikian, lalu ia, juga, mendapatkan keberanian untuk meminta dibaptiskan. Hari ini kami secara teratur datang ke sebuah gereja Kristen di tempat saya, dan mengingat bahwa Allah, melalui iman kepada Yesus Kristus, menyelamatkan saya dari kematian yang sebenarnya sudah pasti dalam badai di lautan luas.

Bagi kami, kesaksian dalam kisah di atas tidak masuk akal. Dalam cerita di atas, faktanya adalah bahwa badai reda setelah berdoa kepada Kristus. Padahal, menurut metodologi penelitian ilmiah, suatu kejadian yang berurutan itu belum tentu menunjukkan hubungan sebab-akibat. Contohnya: Terjadi gerhana matahari. Lantas, orang-orang segera memukuli kentongan. Setelah itu, gerhana matahari berlalu. Di sini, berlalunya gerhana matahari terjadi setelah orang-orang segera memukuli kentongan. Namun, berlalunya gerhana matahari itu bukan karena orang-orang segera memukuli kentongan. Sebab, tanpa pemukulan kentongan itu pun gerhana matahari akan berlalu pula.

Kami mencari kisah-kisah kesaksian murtad yang masuk akal, seperti dalam artikel “Alasan Murtad Yang Masuk Akal“. Kalau ada, mohon beritahu kami di sini.

Alasan Murtad Yang Masuk Akal

1 Agustus 2010 60 komentar

Dalam beberapa bulan terakhir ini, aku menyimak beberapa ratus kesaksian (dalam bahasa Inggris dan Indonesia) dari sejumlah orang murtad mengenai mengapa mereka keluar dari agama Islam. Dalam pengamatanku, kebanyakan dari kesaksian mereka bersifat “emosional”. Hal ini aku rasakan dari betapa menggebu-gebunya mereka menjelek-jelekkan Islam dalam kesaksian mereka. Sedikit sekali diantara mereka yang alasan murtadnya masuk akal menurut pikiran polosku. Di antara yang sedikit ini adalah kesaksian Hafidha Acuay via Agama Universal:

Baca selanjutnya…

Murtad gara-gara persaingan sengit antara Kristenisasi dan Islamisasi?

30 Juli 2010 52 komentar

Kesaksian seorang pria Pakistan yang murtad (keluar dari agama Islam) dengan alasan bahwa ia merasa tidak aman dengan adanya “persaingan sengit yang tak sehat” antara Kristenisasi dan Islamisasi:

Mengapa saya meninggalkan Islam? [Karena] saya mempersoalkan konsep intinya: Mengapa Sang Mahakuasa menganugerahi saya dengan membuat saya terlahir dalam sebuah keluarga muslim [sehingga saya menjadi muslim]? Banyak orang Islam masih percaya dan akan memberitahu Anda dengan blak-blakan bahwa hanya orang Islam yang berakhir di surga karena mereka satu-satunya pengikut Tuhan sejati yang tunggal, rasulNya yang terakhir, dan Al-Qur’an yang suci. Saya penasaran perihal mengapa Tuhan Sang Mahamulia lebih menyukai saya daripada orang-orang nonmuslim [karena terlahir dari keluarga nonmuslim]. Saya pun penasaran perihal kehebatan apa yang telah saya lakukan ketika saya belum lahir, sehingga saya memenangkan sebuah posisi [keselamatan] kitab-Nya yang bagus!

Melalui penelitian, terutama lewat perbincangan dengan orang-orang Kristen yang menjadi Kristen sejak lahir, barulah saya mengerti bahwa bukan hanya orang Islam, melainkan juga orang Kristen, yang percaya secara membuta bahwa merekalah pemeluk agama yang sebenarnya dan bahwa Tuhan menunjukkan rahmat-Nya kepada mereka dengan memilihkan satu agama yang benar bagi mereka dan bagi para anggota keluarga mereka. Jadi, ada apa mengenai hal ini? Kalau kedua pihak yakin bahwa agama merekalah satu-satunya agama yang benar, maka secara otomatis pihak lainnya menjadi tidak benar—karena orang-orang muslim tidak menerima Yesus Kristus sebagai Putra Tuhan sedangkan orang-orang Kristen takkan bergeser sedikit pun dalam menerima Yesus sebagai juru selamat, Sang Putra Tuhan.

Saya tidak yakin apakah saya memenuhi syarat untuk menyatakan bahwa Islam atau Kristen atau segala agama lain itu buruk lantaran hal itu. Namun, saya yakin bahwa dunia kita sangat tidak aman dengan adanya kaum evangelis dan jihadis yang menghantam kita dengan klaim itu dalam “debat kusir” mereka [atau “persaingan sengit” yang tak sehat antara kristenisasi dan islamisasi].

Ya, ada banyak orang Islam atau pun Kristen (dan berbagai agama lain) yang mengklaim agama mereka sebagai satu-satunya agama yang pasti benar. Aku pun “yakin bahwa dunia kita sangat tidak aman dengan adanya kaum evangelis dan jihadis yang menghantam kita dengan klaim itu dalam ‘debat kusir’ mereka.” Namun, apakah alasan ini sudah memadai bagiku untuk murtad dari agamaku?
Baca selanjutnya…

Pandangan Seorang Murtad yang Aku Sepakati mengenai Toleransi & Monopoli Kebenaran Agama

30 Juli 2010 9 komentar

Akan mulai menjadi masalah bagi manusia jika sekelompok orang merasa bahwa satu-satunya kebenaran adalah versi mereka dan memaksakan versi kebenaran ini pada orang lain. Berjuta-juta orang mati karena keyakinan semacam ini. Jika versi kebenaran ini berkaitan dengan keyakinan agama, bukan keyakinan mereka akan Tuhan yang menjadi masalah, tetapi keyakinan dalam memonopoli pehamaman “kebenaran” agama itu yang menjadi masalah. Orang saling membunuh bukan karena mereka percaya pada Tuhan, tetapi karena mereka merasa bahwa pemahaman mereka adalah satu-satunya yang benar dan mereka yang lain dianggap salah dan pantas mati.

Keyakinan dalam memonopoli kebenaran tidak selalu terkait dengan keyakinan agama. Salah satu contohnya adalah komunisme yang merupakan doktrin atheis. Jadi, sewaktu komunis menganggap bahwa komunisme adalah satu-satunya kebenaran, para komunis ini memerangi, menyiksa dan membunuh berjuta-juta orang yang tidak sepaham dengan mereka.

Masalah utamanya adalah “ketiadaan toleransi”. Hal ini berakar pada keyakinan bahwa “kebenaran” kita adalah satu-satunya kebenaran dan hanya kita yang memiliki kebenaran itu.

Baca selanjutnya…

Murtad Lantaran Menyaksikan Penampakan Yesus?

29 Juli 2010 188 komentar

Junaedi Salat [yang beragama Islam] menikah dengan Mauli, gadis berdarah Batak yang beragama Kristen. Keluarga Junaedi-Mauli yang berbeda agama ini berjalan tidak harmonis dengan banyak percekcokan. Hal ini dikarenakan kebiasaan Junaedi yang mencandu narkotika. Suatu ketika ia pergi ke sebuah studio rekaman setelah bertengkar dengan istrinya, ia berkata “Wahai Yesus jika memang Engkau benar-benar Tuhan, tampakkanlah dirimu!” Tiba-tiba terjadi penampakan Yesus Kristus duduk dalam mobil di sampingnya. Junaedi kemudian kemudian bertobat dari kecanduan narkoba dan menyatakan hari Natal 1984 sebagai Natal pertama baginya.

Demikianlah kabar mengenai Junaedi Salat, aktor Ali Topan Anak Jalanan (1977), dari http://id.wikipedia.org/wiki/Junaedi_Salat. Sayangnya, berita tersebut tanpa rujukan sama sekali. Jadi, aku belum bisa yakin akan benar-salahnya. Namun, dengan asumsi bahwa informasi tersebut mungkin saja benar, aku mengikuti jejak perjalanan spiritualnya itu. Kemarin, sekitar pukul tiga dini hari, aku berkata: “Wahai Yesus! Jika memang Engkau benar-benar Tuhan, tampakkanlah dirimu!”
Baca selanjutnya…

Sekarang muslim, nanti berubah menjadi apa?

29 Juli 2010 23 komentar

perubahan | kebenaran | agama | Islami | manusia | mantan muslim

Setiap manusia dilahirkan tanpa tahu apa-apa. Pada waktu kita tumbuh dan belajar hal-hal baru, pemahaman kita akan kebenaran berkembang. Apa yang kita bilang “benar” kemarin mungkin kelihatan tidak lagi demikian saat ini dan mungkin pemahaman kita sekarang pun akan berubah pada waktu yang akan datang.

Setuju. Di benakku, Islam yang kupahami hari ini berbeda dengan yang kupahami kemarin. Islam yang kupahami kemarin berbeda dengan yang kupahami kemarin lusa. Jadi, mungkin saja Islam yang kupahami besok berbeda dengan yang kupahami hari ini.

Baca selanjutnya…