Beranda > Uncategorized > Benarkah memenggal orang kafir berarti mengikuti perilaku Nabi Muhammad?

Benarkah memenggal orang kafir berarti mengikuti perilaku Nabi Muhammad?

Seorang pembenci Nabi Muhammad menyindir, “Kenapa kamu gak mengikuti nabi kamu? Penggal kafir, garong dan rampok kafir, … dst?” Jawabanku: Benarkah “penggal kafir, garong dan rampog kafir … dst” itu berarti mengikuti perilaku Nabi? Aku meragukannya berdasarkan pertimbangan seorang idola di bawah ini:

Kisah seorang idola yang mengejar seorang perempuan Suatu hari, si Fulan melihat idolanya mengejar seorang perempuan. Tiba-tiba seorang perempuan lainnya melintas di depannya. Lalu ia pun mengejar si perempuan. Melihat itu, seorang pengamat merasa geram. "Mengejar perempuan? Menjijikkan!" Lantas sang pengamat menemui si Fulan dan bertanya: “Mengapa kau mengejar perempuan itu? Apa kau tidak tahu bahwa perilaku seperti itu menjijikkan?” Si Fulan: “Itu tidak menjijikkan. Saya mengejar perempuan itu k … Read More

via Pikiran Polos

Categories: Uncategorized
  1. 4 Agustus 2010 pada 15:15 | #1

    Seperti yg sudah saya katakan sebelumnya ini bukan masalah kejar-mengejar.

    Ini masalahnya ada Tuhan menganjurkan anda “mencopet” dan nabinya juga “mencopet” lantas ada penggemarnya mengikuti “pencopetan” itu ditambah pula adanya iming2 hadiah surga seksuil bagi mereka yang mengikuti kegiatan pencopetan berjamaah yg dicontohkan nabi itu.

    Ini bukan masalah anda meragukan atau tidak, bukan masalah orang lain menelan mentah-mentah atau ada orang spt anda yg mengunyah dahulu. Bukan masalah konteks, sudut pandang atau apakah mereka berfilsafat mawas secara massal atau berfilsafat kucing kurap seperti saya.

    Karena “harus mengunyah dulu” dan “tinggal telan” itu tidak DITETAPKAN DENGAN JELAS. Itu tergantung kondisi masing2. Anda bisa berkelit menyatakan ini tidak benar. Tapi “ketidakbenaran” ini dengan sendirinya mati manakala mereka yang “main telan” menyatakan kondisinya membenarkan mereka untuk main telan dan hal ini memang dianjurkan Tuhannya. Sayangnya andapun akan memakai standar ganda, membenarkan sikap “main telan” itu jika kondisinya sama.

    Berbanding terbalik dengan kami yang punya KEMUTLAKAN dari semua hal itu:
    Kasihilah Musuhmu; Jika pipi kirimu ditampar, berikan juga pipi kananmu.

    salam.

    • 4 Agustus 2010 pada 15:53 | #2

      Benarkah bahwa agama Anda punya “kemutlakan” (tekstualitas) yang anda maksudkan itu? Mana buktinya? Lebih baik Anda membicarakan hal ini dengan orang-orang Kristen yang seagama dengan Anda. Saya menyarankan ini karena filsafat mawas itu sendiri justru lahir dan berkembang di perguruan-perguruan tinggi agama Kristen.

      Sekarang jelas bahwa akar perbedaan kita adalah pada bagaimana memahami teks kitab suci. Anda memahami secara tekstual, saya memahami secara kontekstual. Dengan demikian, supaya usaha Anda efektif untuk memurtadkan saya, anda perlu meyakinkan saya bahwa filsafat mawas (kontekstual) itu keliru dan tak bisa dipakai untuk memahami kitab suci. Untuk itu, silakan mengkritik filsafat mawas (perspectival philosophy) langsung ke ahlinya, yaitu Dr. Stephen Palmquist, Department of Religion and Philosophy, Hong Kong Baptist University, Kowloon, HONG KONG. Beliau bisa dihubungi melalui http://www.hkbu.edu.hk/~ppp/

  2. 5 Agustus 2010 pada 08:32 | #3

    Untuk ajaran kasih, itu benar. Anda dengan mudah mereferensikan pasifisme ke Injil, tapi tidak untuk kekerasan dan kebencian.

    Berbeda dgn ,Islam yg anda sendiri mengakui, perlu telaah panjang lebar, sudut pandang, konteks, tafsiran, dll, bahkan ilmu dari kafir: filsafat mawas, untuk membuat ayat2 yang penuh kebencian dan kekerasan manjadi tidak berlaku lagi.

    renungkanlah pak Shodiq.

    Salam

    • nimbrung
      19 September 2010 pada 11:31 | #4

      jephman jgn ngomong duang ga pake akal..
      ngumpet2 ga brani tnjukin muka asli.

    • iyan
      14 Agustus 2011 pada 21:31 | #5

      Anda benar jephman tapi menurut kelompok anda tidak buat kami jadi selesai yah aku pikir aneh ngomong sama anda saya punya banyak teman nasrani tapi maaf tdk seperti anda maaf tapi saya sangat menghargai anda dan agama anda kami tdk berani mencela anda dan agama anda,thx

  3. 12 Agustus 2010 pada 01:48 | #6

    @ jephman
    Terima kasih. Sekarang, hal itu sudah saya renungkan. Hasilnya: http://maumurtad.wordpress.com/2010/08/11/islam-kristen-manakah-yang-lebih-sempurna-sebagai-agama/

  4. 23 Oktober 2010 pada 18:11 | #7

    Proses masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia dan terwujudnya akulturasi
    kebudayaan Indonesia dan kebudayaan Islam dalam seni bangunan, seni rupa, aksara,
    seni sastra, sistem pemerintahan serta sistem kalender. Dengan mempelajari hal tersebut
    banyak hal yang telah Anda pahami antara lain bahwa sejak abad ke 7 Islam sudah
    dikenal oleh rakyat Indonesia, dan adanya peran para Mubaligh maupun Walisongo yang
    telah menyebarkan Islam di Indonesia serta kebudayaan yang bersifat adaptif sehingga
    mudah bercampur dengan kebudayaan Islam yang berakibat lahirnya kebudayaan Islam
    Indonesia. Hal ini berarti kebudayaan Indonesia semakin berkembang.
    B. Kerajaan-kerajaan Indonesia yang bercorak Islam seperti kerajaan Samudra Pasai,
    kerajaan Demak, kerajaan Banten, kerajaan Mataram, kerajaan Gowa Tallo (Makasar)
    dan kerajaan Ternate – Tidore di Maluku. Dengan mempelajari kerajaan tersebut mudahmudahan
    tumbuh wawasan Anda bagaimana peran dari kerajaan-kerajaan tersebut di
    masa lampau, dengan raja-raja yang terkenal akan patriotismenya serta sumbangsihnya
    terhadap kebudayaan bangsa Indonesia.
    C. Integrasi bangsa Indonesia yang terwujud karena adanya Nation Indonesia, yang
    kemudian menjadi faktor utama terbentuknya Negara Indonesia yang memiliki
    kemajemukan masyarakat. Dengan mempelajari hal tersebut tentu Anda dapat memahami
    bahwa proses integrasi bangsa memerlukan waktu yang lama yang harus diawali dengan
    kebersamaan dalam kehidupan karena dengan kebersmaan tersebut akan tumbuh
    wawasan kehidupan yang lebih integral dalammemandang diri dan lingkungannya yang
    lebih luas atau dengan kata lain akan tumbuh wawasan kebangsaan/Nasionalisme yang
    terus menyadari akan pentingnya rasa persatuan dan kesatuan bangsa

  5. 23 Oktober 2010 pada 18:14 | #8

    Teori Makkah
    Teori ini merupakan teori baru yang muncul sebagai sanggahan terhadap teori lama
    yaitu teori Gujarat.
    Teori Makkah berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 7 dan
    pembawanya berasal dari Arab (Mesir).
    Dasar teori ini adalah:
    a. Pada abad ke 7 yaitu tahun 674 di pantai barat Sumatera sudah terdapat
    perkampungan Islam (Arab); dengan pertimbangan bahwa pedagang Arab sudah
    mendirikan perkampungan di Kanton sejak abad ke-4. Hal ini juga sesuai dengan
    berita Cina.
    b. Kerajaan Samudra Pasai menganut aliran mazhab Syafi’i, dimana pengaruh
    mazhab Syafi’i terbesar pada waktu itu adalah Mesir dan Mekkah. Sedangkan
    Gujarat/India adalah penganut mazhab Hanafi.
    c. Raja-raja Samudra Pasai menggunakan gelar Al malik, yaitu gelar tersebut berasal
    dari Mesir.
    Pendukung teori Makkah ini adalah Hamka, Van Leur dan T.W. Arnold. Para ahli
    yang mendukung teori ini menyatakan bahwa abad 13 sudah berdiri kekuasaan politik
    Islam, jadi masuknya ke Indonesia terjadi jauh sebelumnya yaitu abad ke 7 dan yang
    berperan besar terhadap proses penyebarannya adalah bangsa Arab sendiri.
    Dari penjelasan di atas, apakah Anda sudah memahami? Kalau sudah paham simak

  6. 23 Oktober 2010 pada 18:26 | #9

    dalam bebagai hal.
    Seperti yang telah dijelaskan bahwa kemajemukan indonesia tampak pada perbedaan warga masyarakat secara horizontal yang terdiri atas berbagai ras, suku bangsa, agama, adatdan perbedaan-perbedaan kedaerahan.Menurut Robertson (1977), ras merupakan pengelompokan manusia berdasarkan ciri-ciri warna kulit dan fisik tubuh tertentu yang diturunkan secara turun-temurun. Untuk itu ras yang hidup di indonesia antar lain ras melayu mongoloid, weddoid, dan sebagainya. Sedangkan untuk suku bangsa atau etnis yang tersebar di indonesia sangatlah beranekaragam, dan menurut Hilldred Geertz di indonesia terdapat lebih dari 300 suku bangsa, dimana masing-masing memiliki bahasa dan identitas kebudayaan yang berbeda.
    Dengan demikian keanekaragaman tersebut merupakan suatu warna dalam kehidupan, dan warna-warna tersebut akan menjadi serasi, indah apabila ada kesadaran untuk senantias menciptakan dan menyukai keselarasan dalam hidup melalui persatuan yang indah yang diwujudkan melalui integrasi.
    3. Proses Integrasi Bangsa Indonesia
    Menurut Hendropuspito oc dalam bukunya “ Sosiologi Sistematik”istilah integrasi berasal dari kata latin integrare yang berarti memberikantempat dalam suatu keseluruhan. Dari kata tersebut maka menurunkan kata integritas yang berarti keutuhan atau kebulatan dan integrasi berarti membuat unsur-unsur tertentu menjadi satu kesatuan yang bulat dan utuh. Secara umum integrasi diartikan sebagai pernyataan secara terencana dari bagian-bagian yang berbeda menjadi satu kesatuan yang serasi.
    Kata integarasi berkaiotan erat dengan terbentuknya suatu bangsa, karena suatu bangsa terdiri dari berbagai unsur seperti suku/etnis, ras, kepercayaan dan sebagainya, yang beranekaragam. Untuk itu integrasi suatu bangsa terjadi karena adanya perpaduandai berbagai unsur tersebut, sehingga terwujud kesatuan wilayah, kesatuan politik, ekonomi, sosial maupun budaya yang membentuk jati diri bangsa tersebut. Integrasi bangsa tidak terjadi begitu saja, tetapi memerlukan suatu proses perjalanan waktu yang panjang yang harus diawali adanya kebersamaan dalam kehidupan. Kebersamaan tersebut memiliki arti yang luas yaitu kebersamaan hidup, kebersamaan pola pikir, kebersamaan tujuan dan kebersamaan kepentingan.

  7. 23 Oktober 2010 pada 18:28 | #10

    Islam merupakan salah satu agama yang masuk dan berkembang di indonesia. Hal ini tentu bukanlah sesuatu yang asing bagi kita, karena di mass media mungkin kita sudah sering mendengar atau membaca bahwa indonesia adalah negara yang memiliki penganut agam islam terbesar di dunia.
    Agam islam masuk ke indonesia dimulai dari daerah pesisir pantai, kemudian diteruskan kedaerah pedalaman oleh para ulama atau penyebar ajaran ajaran islam. Mengenai kapan islam masuk ke indosesia dan siapa pembawanyaterdapat beberapa teori yang mendukungnya.

    1.A. proses masuk dan berkembangnya agama dan kebudayaan islam di indonesia
    Proses masuk dan berkembangnya agama islam di indosesia menurut Ahmad Mansur suryanegara dalam bukunya yang berjudul”menemukan sejarah” ,terdapat tiga teori yaitu teori gujarat, teori makkah dan teori persia.
    Ketiga teori tersebut di atas memberikan jawaban tentang permasalahan waktu masuknya islam ke indonesia, asal negara dan tentang pelaku penyebar atau pembawa agama islam ke nusantara. Teori-teori tersebut adalah:
    1. Teori Gujarat
    Teori ini berpendapat bahwa agama islam masuk ke indonesia pada abad 13 dan pembawanya berasal dari gujarat (cambay), india. Dasar teori ini adalah:
    a. Kuragnya fakta yang menjelaskan peranan bangsa arab dalam penyebaran islam di indonesia.
    b. Hubungan dagang indonesia dengan india telah lama melalui jalur indonesia-cambay-timur tengah-eropa.
    c. Adanya batu nisan sultan samudera pasai yaitu malik Al-Saleh tahun 1297 yang bercorak khas Gujarat. Pendukung teori Gujarat adalah Snouck Hurgronye, WF Stutterheim dan Bernard H.M. Viekke. Para ahli yang mendukung teori Gujarat, lebih memusatkan perhatiannya pada saat timbulnya kekuasaan politik islam yaitu adanya kerajaan samudera pasai. Hal ini juga bersumber sari keterangan marcopolo dari venesia(italia) yang pernah singgah di perlak(perureula) tahun 1292. ia enceritakan bahwa di perlak sudah banyak penduduk yang memeluk islam dan banyak pedagang islam dari india yang mentebarkan ajaran islam.

  8. 23 Oktober 2010 pada 18:29 | #11

    HUBUNGAN Indonesia dengan TimurTengah sudah terjalin sejak lama, terutama dengan bangsa Arab, sedangkan mengenal waktu kedatangan orang-orang Arab ke Kepulauan Indonesia terdapat perbedaan pendapat, baik di kalangan sejarawan asing maupun sejarawan Indonesia sendiri.

    Dua sejarawan Belanda, yaitu Snouck Hurgronye dan WF Stutterhelm. Udak menyinggung mengenal kapan datangnya orang-orang dari TimurTengah ke Indonesia, dan hanya menyebut masuknya agama Islam ke Nusantara pada abad ke Xin. yang didasarkan pada batu nisan Sultan Malik Al Saleh yang wafat pada tahun 1627. dan yang membawa agama Islam ke Nusantara adalah orang-orang Gujarat. Relief nisan yang diketemukan Itu dianggapnya memiliki persamaan dengan nisan yang terdapat di Gujarat.

    Pendapat lain mengatakan bahwa kedatangan pedagang-pedagang Arab dari Ha-dramaut (Yemen) telah berlangsung sejak abad ke X. sementara sejarawan lain mengatakan bahwa saudagar saudagar Timur Tengah telah sampai ke Kepulauan Nusantara sebelum masuknya agama Islam ke Indonesia, bahkan sebelum lahirnya agama Islam.Jalur perdagangan antara Teluk Persia dan Laut Merah dengan Kepulauan Indonesia telah terjalin pada abad ke 2 SM. dan bangsa Arab telah Uba di Indonesia. Apabila versi tersebut benar, maka bangsa Arab merupakan orang asing pertama yang datang ke Indonesia, mengingat bahwa kedatangan bangsa India dan Cina berlangsung pada abad pertama SM.

  9. gadis
    21 Agustus 2011 pada 17:48 | #12

    sekali lagi pembunuhan itu hal yang sangat dilarang, dan fitnah adalah lebih kejam dari pembunuhan, jadi saya setuju dengan judul diatas, pembunuhan itu terjadi karena sebuah keterpaksaan (terdesak, melawan pembunuh, dll).
    bagi saya tafsir membunuh itu adalah yang kesekian ketika sesuatu itu tidak dapat dihindari (perang terbuka). tidak saat damai atau masa gencatan (harus sabar).
    Ya Allah masukan kami dalam golongan orang2 yang Engkau ridhoi, berikan kesabaran pada diri kami, sehingga kami bisa melewati dunia yang antara kebencian dan murah hati hampir tidak dapat dibedakan lagi.wahai Zat yang menguasai Alam Semesta.

  10. 4 November 2011 pada 20:11 | #13

    Wah yang lagi sibuk berebut kebenaran……….. Selamat sibuk dengan debat Anda. Sebenarnya siapa sih yang membuat Anda bisa berdebat tentang kebenaran? Coba renungkan siapa yang menggerakkan pikiran Anda, sehingga Anda bisa berdebat? Apakah akar dari yang membuat pikiran kita bisa bergerak?

  11. liana
    5 Januari 2012 pada 15:27 | #14

    jephman temannya pak shodiq ya? curiga saya sama kalian berdua….hehehehe..piss. habis, seru banget ngobrolnya. Bukan “sengaja” debat agama di forum ini kan ya?

  1. 19 Agustus 2010 pada 05:22 | #1

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.