Pandangan Seorang Murtad yang Aku Sepakati mengenai Toleransi & Monopoli Kebenaran Agama
Akan mulai menjadi masalah bagi manusia jika sekelompok orang merasa bahwa satu-satunya kebenaran adalah versi mereka dan memaksakan versi kebenaran ini pada orang lain. Berjuta-juta orang mati karena keyakinan semacam ini. Jika versi kebenaran ini berkaitan dengan keyakinan agama, bukan keyakinan mereka akan Tuhan yang menjadi masalah, tetapi keyakinan dalam memonopoli pehamaman “kebenaran” agama itu yang menjadi masalah. Orang saling membunuh bukan karena mereka percaya pada Tuhan, tetapi karena mereka merasa bahwa pemahaman mereka adalah satu-satunya yang benar dan mereka yang lain dianggap salah dan pantas mati.
Keyakinan dalam memonopoli kebenaran tidak selalu terkait dengan keyakinan agama. Salah satu contohnya adalah komunisme yang merupakan doktrin atheis. Jadi, sewaktu komunis menganggap bahwa komunisme adalah satu-satunya kebenaran, para komunis ini memerangi, menyiksa dan membunuh berjuta-juta orang yang tidak sepaham dengan mereka.
Masalah utamanya adalah “ketiadaan toleransi”. Hal ini berakar pada keyakinan bahwa “kebenaran” kita adalah satu-satunya kebenaran dan hanya kita yang memiliki kebenaran itu.
Jika kita asumsikan ada kebenaran absolut dalam keyakinan agama, hal ini tidak terjangkau akal manusia. “Kebenaran” agama adalah tidak terbatas, “infinite” dan kita, manusia memiliki keterbatasan, “finite”. Jadi keterbatasan manusia tentunya tidak dapat menangkap/memahami sesuatu yang tidak terbatas.
Jadi, apakah bukan suatu kebodohan jika kita saling bertempur untuk saling memaksakan kebenaran sesuai keyakinan agama kita? Bagaimana mungkin orang bertempur atas suatu kebenaran “infinite” yang tidak mungkin kita tangkap? Apa yang kita yakini sebagai kebenaran dalam agama kita adalah sama dengan apa yang diyakini orang lain yang memiliki keyakinan agama lain sebagai “kesalahan”. Jadi, kebenaran agama sifatnya subyektif, tergantung pemeluknya. Dan ini adalah sifat alami dari keyakinan agama, percaya sesuatu yang kita tidak tahu. Karena kalau kita percaya sesuatu yang kita tahu, kita tidak lagi menyebutnya sebagai “keyakinan”/”iman”, karena kita tidak bisa bilang yakin akan suatu yang sudah ada faktanya, tetapi kita bilang “tahu akan suatu fakta”. (Misalnya, dulu orang yakin bahwa bumi berbentuk datar tanpa mereka tahu, tanpa fakta. Sekarang orang tahu bahwa bumi berbentuk oval berdasarkan fakta. Kita sekarang tidak akan bilang bahwa kita percaya bahwa bumi berbentuk oval tetapi kita tahu bahwa bumi berbentuk oval).
Saya merasa bahwa adalah tidak benar untuk memerangi keyakinan agama yang tidak sesuai dengan keyakinan kita. Apa yang semestinya kita tentang adalah “ketiadaan toleransi”. Seandainya suatu hari kita memiliki kekuasaan seperti misalnya kekuasaan yang pernah dimiliki Stallin (Soviet dulu), apa yang akan kita lakukan dengan orang-orang yang tidak setuju dengan versi kebenaran kita dan ingin meyakini sesuatu yang kita anggap salah dan irasional? Apakah kita akan memaksakan versi kebenaran kita kepada mereka? Begitu kita merasa bahwa kita telah menemukan kebenaran absolut dan karena itu kita merasa memiliki hak dan kewajiban untuk membungkam dan memaksakan keyakinan kita itu terhadap orang lain, pada saat itu kita menjadi orang yang “intolerant”.
Menyatakan orang lain sesat, kafir, murtad karena memiliki pemahaman yang berbeda tentu saja menunjukkan ketiadaan toleransi. Dan itulah yang dilakukan banyak muslim terhadap misalnya ahmadiyah dll. Dasarnya adalah bahwa mereka merasa bahwa pemahaman islam mereka yang paling benar dan yang tidak sesuai dengan itu adalah sesat.
Demikianlah kata-kata seorang anggota forum orang-orang murtad. Pada prinsipnya, aku sepakat dengan pandangannya itu. Walau ada beberapa pandangan yang tidak aku sepakati, aku merasa tidak perlu mengungkapkannya. Sebab, aku tidak ingin memperuncing perbedaan hal-hal yang bukan prinsip.

siapapun anda apapn agama anda, saya cuma pengen komentar sedikit, sebenarnya tidak perlu berdebat secara agama, karena tidak akan ada habisnya. Allah telah menegaskan, orang non-muslim baik kamu beri pengertian ataupun tidak sama saja, hanya hidayah Allah yang bisa merubah orang jadi muslim/kafir..itu sudah ditunjukkan Allah, bahwa paman rasulullah sendiri, tidak diberi hidayah oleh Allah hingga akhir ajalnya, walaupun Rasul memintakan islam untuk pamannya yang iya cintai itu kepada Allah.Jadi apalagi saya/kita yang cuma muslim biasa tidak akan punya daya upaya untuk menyadarkan orang lain kecuali atas izin Nya.
dan begitu juga untuk Ahmadiyah…kita lepas dari akidah aja deh, bawa ke logis aja..AlQuran mengatakan Rasulullah Nabi Muhammad SAW adalah penutup sekalian nabi dan Rasul. Jadi kalau mereka mengaku Islam dan kitab suci AlQuran tapi mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi bukankah itu pelanggaran terhadap AlQuran?jadi AlQuran mana yg mereka imami/ikuti?(udah itu aja masalahnya gak usah panjang2 debat n pake ayat macam2).namun saya rasa mereka gak perlu diperangi selama mereka tidak mengacau dan mempengaruhi muslim lainnya untuk meyakini ajaran mereka, cukup kita berdakwah saja dan memperkokoh keyakinan masing2. karena Rasul sendiri juga sudah pernah mengatakan bahwa umat Islam itu pada akhir zaman akan pecah menjadi beberapa bagian jadi ya sudah gak usah diributkan lagi bagi umat Islam, introspeksi saja diri masing2, berbuat baik terhadap semua mahluk apapun dan siapapun itu(karena Rasul tidak pernah mengajarkan kekerasan), dalamilah Al-Quran dan Hadist yang tidak bertengan dgn Al-Quran karena cuma itu pesan Rasul agar selamat dunia Akhirat semoga Allah selalu menuntun dan menyelamatkan Mukmin yg seperti itu.
masalah Ahmadiyah itu jelas sesat dari islam,
ini bukan masalah toleran atau tidak toleran, tetapi ini masalah pencemaran/penyelewangan agama…..khususnya islam.
kalo mo ahmadiyah tetap eksis harusnya jangan bawa bawa Islam donk,
buat agama baru, agama ahmadiyah gitu….jadi biar independent….
yang jadi masalah apakah mereka bisa menjamin bahwa kelompok ahmadiyah tidak mengacau atau mempengaruhi umat islam yang lain….
dan satu hal yang paling adalah yang menolong agama islam itu tetap eksis tetap murni, adalah umat islam sendiri, bukan cuma tugas para ulama/dai’, tapi semua umat muslim….
bismillah
jangan salahkan agama/orang atas terjadinya kemurtadan, kembalikan kepada diri kita sendiri
mungkin kita sendiri aja yang kurang mau berusaha apa sih agama itu? udah tentu kalo pelajari agama(islam) jangan setengah setengah makanya banyak murtad kenali fahami baru tentukan karna perbedaan umat zaman nabi Muhammad dan sekarang ….dulu sahabat sahabat memperlajari islam itu seperti apa baru menetukan masuk islam kalo sekarang masuk islam dulu baru dipelajari dan satu lagi bahwa islam bukan untuk dipelajari tapi dijadikan tujuan melalui alquran dan sunnah maka dijadikan pedoman hidup….aku berlindung kepada Alloh swt dari kebodohan dan ketidak tahuan dan aku berlindung kepada dari godaan syetan yang terkutuk….amin