Beranda > Perubahan Agamaku > Sekarang muslim, nanti berubah menjadi apa?

Sekarang muslim, nanti berubah menjadi apa?

perubahan | kebenaran | agama | Islami | manusia | mantan muslim

Setiap manusia dilahirkan tanpa tahu apa-apa. Pada waktu kita tumbuh dan belajar hal-hal baru, pemahaman kita akan kebenaran berkembang. Apa yang kita bilang “benar” kemarin mungkin kelihatan tidak lagi demikian saat ini dan mungkin pemahaman kita sekarang pun akan berubah pada waktu yang akan datang.

Setuju. Di benakku, Islam yang kupahami hari ini berbeda dengan yang kupahami kemarin. Islam yang kupahami kemarin berbeda dengan yang kupahami kemarin lusa. Jadi, mungkin saja Islam yang kupahami besok berbeda dengan yang kupahami hari ini.

Sel-sel tubuh kita secara terus mengalami perubahan, sebagian mati dan digantikan sel-sel yang baru. Pikiran kita juga demikian. Setiap hari kita belajar hal-hal baru dan hal ini secara terus menerus juga akan mengubah pola pikir kita, meskipun mungkin perubahan ini tidak kasat mata. Jika kita melihat ke belakang, akan kita sadari betapa banyak kita telah berubah. Perubahan tidak dapat dihindari. Orang yang tidak berubah adalah orang yang tidak belajar. Perubahan adalah keharusan bagi setiap mahluk hidup. Pemahaman kita akan kebenaran terus berubah dan akan tetap demikian selama kita masih hidup dan belajar.

Setuju juga. Mari kita berubah dan terus berubah! Namun, aku tidak mau berubah secara asal-asalan. Aku tidak mau berubah dari yang baik menjadi yang buruk. Aku mau berubah dari yang buruk ke yang baik dan dari yang baik ke yang lebih baik.

Apabila aku jumpai jawaban yang membuatku yakin akan kesesatan agama Islam, maka aku akan berubah dari muslim menjadi mantan muslim. Namun kalau tidak kutemukan jawaban yang membuatku yakin akan kesesatan agama Islam, maka perubahan yang kumaui adalah dari muslim menjadi muslim yang lebih islami.

Jadi, pada waktu kita bicarakan kebenaran agama, “kebenaran” mana yang kita maksudkan? Kebenaran yang kita yakini pada waktu kita masih anak-anak atau kebenaran yang kita percaya saat ini? Apakah kita masih percaya pada apa yang kita yakini kebenarannya pada waktu kita masih anak-anak?

Ya dan tidak. Apa pun agama kita semasa kanak-kanak, kita perlu memeriksa benar-salahnya sewaktu kita sudah dewasa. Bahkan, kita pun perlu memeriksanya kembali SAAT INI.

Categories: Perubahan Agamaku
  1. 31 Juli 2010 pada 13:53 | #1

    Berfikir kritis tentang ajaran agama memang tidak ada salahnya. tetapi hati-hati karena fikiran, analisis, dan hati manusia itu terbatas. Salah analisis akan tambah menyesatkan kita. Kalau analisis dan pemikiran kita menemui jalan buntu, lebih baik back to Al Quran dan Al Hadist..

    • 1 Agustus 2010 pada 03:43 | #2

      @ Ibonk
      Apakah “back to Al Quran dan Al Hadist” identik dengan kehati-hatian seorang muslim? Bagaimana kalau keduanya ternyata sesat dan/atau menyesatkan? Tidakkah memeriksa dan memeriksa kembali benar-sesatnya agama kita itu justru menunjukkan bahwa kita lebih berhati-hati?

  2. 1 Agustus 2010 pada 12:16 | #3

    wallahu a’lam, aku percaya dan beriman bahwa Allah itu satu, tiada sekutu baginya. Dia yang awal meskipun tak ada awalnya, Dia pula yang akhir dan tak akan pernah berakhir..

  3. black
    1 Agustus 2010 pada 12:43 | #4

    Setiap orang beragama telah menyatakan menjadikan sesuatu itu sebagai pedoman dan acuan dalam bertindak dan berfikir, saya seorang muslim maka menjadikan AlQuran dan hadist sebagai pedoman saya dalam bersikap dan berfikir..
    Agama di bangun berdasarkan sebuah keyakinan penganutnya, sesat atau menyesatkan tergantung bagaimana penganutnya memahami ajaran yg terkandung di dalamnya,
    berbeda dengan ilmu pengetahuan yang berdasarkan fakta dan pembuktian terlebih dahulu sebelum menanamkan keyakinan pada ilmu pengetahuan tersebut..

    dalam diri seorang muslim, Allah swt mengajarkan hambanya yg pertama kali adalah untuk iqro, ‘membaca’, membaca segala apa yg ada di alam, segala ciptaan sang khaliq.

    jika anda sebagai muslim merasa ragu akan kebenaran ajaran islam, maka kembalikan pada diri anda bagaimana awal mula anda menjadi seorang muslim?
    apa pedoman yang anda pegang sebagai seorang muslim?

    “back to Alquran dan hadist’ bukanlah sebuah bentuk kehati-hatian, tp sebuah bentuk pemurnian dan pendekatan pada ajaran yang sebenarnya, yang merupakan Dasar dan acuan seoarang muslim

    Alangkah naifnya bila anda baru merasa hati2 setelah anda memasuki sesuatu, jika anda menganggap dan merasa dalam Alquran dan hadist sesat dan menyesatkan, mengapa ada tidak segera melirik dan memilih sesuatu yg lain yg anda benar selain keduanya?

    Allah swt tidak akan berkurang kemuliaanNya meskipun saya atau anda keluar dari islam, Allah swt pun tidak bertambah kemuliaanNya seandainya seluruh manusia di muka bumi ini masuk islam dan memuliakanNya…

    Karena ajaran dan keyakinan dalam beragama sejatinya adalah kembali untuk penganut yang memiliki keyakinan itu sendiri

    • 1 Agustus 2010 pada 14:41 | #5

      Alangkah naifnya bila anda baru merasa hati2 setelah anda memasuki sesuatu, jika anda menganggap dan merasa dalam Alquran dan hadist sesat dan menyesatkan, mengapa ada tidak segera melirik dan memilih sesuatu yg lain yg anda benar selain keduanya?

      Bukankah “segera melirik yang lain” itu tergolong kurang berhati-hati? Tidakkah yang lebih berhati-hati itu adalah yang memeriksa (dan kembali memeriksa) benar-sesatnya?

  4. black
    1 Agustus 2010 pada 15:01 | #6

    itu dia om, makanya sebelum melirik yang lain, pelajari dulu yang sedang dilirik dengan seksama dan bandingkan dengan yang saat ini, mana yang paling banyak kebaikan dan keburukannya (ini baru disebut hati-hati dalam memilih)

    dan untuk bisa tau dan membandingkan antara yang sekarang dengan yang akan dilirik, tentu saja seperti yang saudara Ibonk sampaikan, yaitu kembalikan ke AlQuran dan hadist.. jika anda berniat memilih agama xyz, artinya anda perlu juga mempelajari acuan agama tersebut…

    sebelum saya mantap meneruskan islam saya, saya telah mencoba mempelajari terlebih dahulu ajaran2 dan kitab2 agama lain..
    dan alhamdullillah Alquran adalah sebaik-baik kitab, dan hadist adalah sebaik-baik tuntunan

    semoga anda, saya dan kita semua senantiasa diberiNya hidayah dan kemudahan dalam menelaah ilmu-ilmu yang ada di depan kita

    Kebenaran mutlak milik Allah swt, manusia hanya bisa berprasangka dan menduga-duga,
    jika anda merasa tersesat, maka ada baiknya anda segera melihat dan pelajari peta yang anda miliki dengan lebih seksama…
    jika anda merasa peta yang anda miliki menyesatkan, segera pelajari peta pembanding yang anda ketahui, sehingga anda bisa segera menemukan peta mana yang lebih tepat untuk tujuan hidup anda

    Semoga anda segera bisa mendapatkan jalan keluar dari ‘ke-tersesat-an’ anda, apapun keyakinan yang anda pilih, semoga Allah swt senantiasa memberikan kelapangan hidup untuk anda

    sebagai muslim, saya hanya bisa mendoakan yg terbaik untuk anda sebagai bentuk implementasi ibadah hablum minanas (ibadah dlm bentuk interaksi kepada sesama manusia)

    mohon maaf bila saya terkesan menggurui

  5. 2 Agustus 2010 pada 14:29 | #8

    kutipan pembuka pada tulisan anda begitu menohok saya, betapa tidak, karena saya juga pernah merasa demikian. pada kutipan anda yang kedua, anda telah menemukan jawabannya! “Sel-sel tubuh kita secara terus mengalami perubahan, sebagian mati dan digantikan sel-sel yang baru” adakah ini berubah secara otomatis, secara spopntan dan tak ada yang mengendalikan? anda sudah sadar dengan sunnah Rasul Muhammad “Mari kita berubah dan terus berubah! Namun, aku tidak mau berubah secara asal-asalan. Aku tidak mau berubah dari yang baik menjadi yang buruk. Aku mau berubah dari yang buruk ke yang baik dan dari yang baik ke yang lebih baik” Rasul pernah bersabda yang intinya “jika hari ini lebih buruk dari kemarin maka adalah orang yang celaka, jika hari ini sama dengan hari kemarin maka adalah orang yang rugi dan jika hari ini lebih baik dari kemarin maka adalah orang yang beruntung” apa yang anda pikirkan telah dipikir dan dilakukan oleh rosul seribu empat ratus sekian yang lalu.

    kita berdua pernah mengalami keguncangan, bahwa agama yang kita anut dan pahami adalah agama ibu bapak kita, nenek moyang kita, dan kita berpikir benarkah itu?

    “yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai (yaasin:6)” dan kita dituntut untuk tetap mencari kebenaran agar kita tak lalai seperti bapak-bapak kita.

    pernahkah anda berusaha untuk mencari islam yang islam? atau anda sudah putus asa untuk mencari kebenaran islam?“Sesungguhnya agama (yang ada) di sisi Allah adalah Islam.” (Ali Imran: 19)”

    seberapa jauh anda telah mencari? pada surat al-ahzab 21, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. ” maka kenapa kita tak berusaha mencontoh?

    pernahkah anda mencintai seseorang? bagaimanakah ketika seseorang yang anda cintai namanya disebut oleh orang lain dan anda mendengarnya? bagaimana perasaan anda, bergetar dan teringat tentang dia? sudah pernahkah anda cinta dengan Allah? dan sudah pernahkah anda merasa seperti ini : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal” (al-anfal:2).

    saya tidak bermaksud menggurui, tapi saya juga merasa seperti anda. tapi, saya tahu saya adalah orang yang bodoh, lemah dan tak tahu apapun. maka sebelum saya membuat kesimpulan yang fatal, saya terus mencari ‘kebenaran’ yang mungkin kita sama-sama sedang mencarinya. maka : “Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.

    waaalahua’lam bishowab.

  6. milassalmi
    3 Agustus 2010 pada 13:00 | #9

    Pak… untuk mencari kebenaran dan kesesatan dalam beragama memang tidaklah mudah, akan tetapi itu benar dan itu sesat sangat mudah… adapun dlm pencariannya perlu pembanding dg agama lain, perlu teman diskusi, perlu guru sbg referensi, perlu ahli sesuai dg bidangnya sbg tempat bertanya dan perlu kesabaran krn perlu proses dan membutuhkan waktu … menurutku kebenaran Islam jelas karena aku orang Islam dg pernyataan Agama Islam paling benar… bisa saja aku mengatakan Islam yg sesat karena tidak sesuai dg pemahamanku ttg Islam dan ritual yg dilakukan orang lain tidak sama dg ritual yg aku lakukan… dg demikian back to Al Quran dan Hadist suatu langkah yg tepat dan meyakini bahwa Allah Maha Benar dg segala FirmanNYA, karena aku sendiri saat ini lagi dalam pencarian dan juga tidak pandai menukil Firman2NYA, aku meyakini suatu saat nanti akan ditemukan mana yg benar dan yg mana yg sesat, akan aku tetap yakin dengan keyakinanku saat ini… Hati-hati dg penafsiran dan mengambil hikmah dari semua ini… terimakasih dg komentar2 dari yg lain dan judul tulisan ini sehingga aku juga mengoreksi diri sesuai kemampuanku… maaf ya apabila tidak sesuai dg harapan dg diskusi ini…

  7. gagahberani
    30 Agustus 2010 pada 13:12 | #10

    Seorang manusia yang jujur haruslah mempelajari sesuatu dengan tuntas. Pelajarilah apapun yg tertulis di dalam Al Quran, baik ataupun buruk. Hidup kita haruslah merupakan pilihan kita sendiri, bukan hasil dikte masyarakat, keluarga ataupun tekanan sosial. Saya pribadi telah menyelami berbagai ajaran agama dan sejujurnya saya menemukan garis yang sebanding antara kata2 Budha dan Yesus, tetapi tidak dalam Al Quran. Justru di dalam pemikiran kaum sufi lah saya menemukan kesejajaran dengan kata2 Budha dan Yesus. Sayangnya, kaum sufi itu digolongkan sebagai “penyimpangan” dalam Islam. Semoga kita semua bisa menemukan kedamaian dan kebenaran yang nyata…

  8. farida
    2 September 2010 pada 10:00 | #11

    semoga kita selalu mendapatkan hidayahNya..karena sesungguhnya sebaik-baik dan sebenar-benarnya agama dan keyakinan disisi Allah ,hanyalah Islam… Allohu akbar…dan semoga saudara-saudara yang tersesat segera kembali ke jalanNya, Wallahu a’lam bishshowab…

  9. Cinta Damai
    7 Desember 2010 pada 00:17 | #12

    Sejatinya Tuhan Allah itu Sempurna, Sejatinya Firman Allah itu adalah Sempurna dan Kekal selama-lamanya. Jika ada orang yang menyatakan Firman Allah tidak sempurna dan harus disempurnakan maka patut dipertanyakan logika orang itu.
    Ambil contoh misalkan Firman Tuhan berbunyi : Hai Manusia, janganlah kamu membunuh sesamu manusia. Lalu apakah hal ini harus disempurnakan jika memang Tuhan berfirman demikian???Apa harus diganti menjadi : Hai Manusia, kamu boleh membunuh sesamamu yang tidak percaya kepadaku??? Jika Firman Tuhan dianggap ada yang tidak sempurna, apakah itu bukan penghinaaan kepada Tuhan??? Kalo firman itu berkelanjutan masih dapat diterima, tapi kalo firman Tuhan butuh penyempurnaan maka dimana kesempurnaan Tuhan itu??

  10. umat nabi muhammad
    17 Juli 2011 pada 07:07 | #13

    jangan pendam rasa keraguan dan kebimbangan dalam hati sebenarnya itu bisikan syaitan yang paling dalam,sepandai-pandainya kita berfikir tentang kebenaran dalam keraguan yang tidak didasari oleh alquran dan hadist serta keyakinan yang teguh itu merupakan ladang yang subur bagi syaitan dan pengikutnya untuk menyesatkan kita,astaghfirulloh haladzim.teguhkanlah imanmu yakinlah dengan keyakinanmu insyaallah anda menjadi orang beruntung di dunia dan akhirat..amin

  11. 22 Desember 2011 pada 02:39 | #14

    itulah namanya belajar…….

    umat islam, ketika sholat pasti selalu meminta untuk ditunjukkan jalan yang lurus…..
    padahal kan ketika dia sudah muslim, maka otomatis dia sudah lurus…..

    itulah karena Tuhan menyuruh umatnya untuk trus belajar…..yang lurus itu bagaimana….

    kalau sudah islam jangan cuma segitu gitu aja…..

    Al Qu’ran adalah sejarah, teori, konsep dan lain2….apakah karena FirmanNya yang pasti benar maka kita juga membenarkan begitu aja….

    umat Islam itu disuruh untuk membuktikan apakah Al-qur’an benar pa tidak……

    melalui dengan namanya belajar ……….buka sudut pandang yang luas dan berbeda…

    pelajari sesuatu secara konstekstual dan juga tekstual……ada arti dan ada makna

    beda rasanya kalo kita melihat sesuatu kebenaran berdasarkan pemahaman dengan berdasarkan keimanan saja…

    agama itu diimani dan dipahami, agar kita bisa memahami dan mendapatkan kepahaman, maka kita harus mengimplementasikan apa yg kita yakini dalam kehidupan sehari-hari

  1. 1 Agustus 2010 pada 04:46 | #1

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.